Forensik

Introduction to Forensic Autopsy

Latar belakang :

  • banyak kasus kriminal yang membutuhkan pemeriksaan forensik.
  • KUHAP ps 179 -> setiap dokter atau dokter ahli KK atau ahli lainnya jika diminta, wajib memberikan keterangan demi keadilan.

Otopsi Forensik

Otopsi : pemeriksaan lengkap pada jenazah, meliputi pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, pengeluaran + pemeriksaan organ, dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang (laboratorium).

Jenis – jenis otopsi :

  • Otopsi Pendidikan : praktium anatomi.
  • Otopsi Klinis : pada pasien rawat inap RS yg meninggal namun diagnosis belum tegak.
  • Otopsi Forensik : ketika seseorang meninggal secara mendadak atau tidak wajar maka akan timbul pertanyaan seputar kematiannya ; untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan seputar kematian dibutuhkan pemeriksaan medis terhadap jenazah forensik berdasarkan ilmiah kedokteran untuk kepentingan peradilan ; otopsi forensik adalah otopsi terhadap jenazah yg kematiannya dianggap tidak wajar (oleh penyidik) untuk kepentingan peradilan ; otopsi forensik merupakan prosedur kunci untuk membuktikan tentang penyebab kematian ; otopsi ini umumnya dilakukan oleh seorang ahli patologi forensik.

Syarat otopsi forensik :

  • Ada permintaan tertulis dari penyidik yg bersifat definitif.
  • Ada persetujuan tertulis dari pihak keluarga / ahli waris korban.
  • Penyidik : pejabat kepolisian RI serendah2nya kapolsek berpangkat serendah2nya IPDA ; polisi militer (min.kapten) ; pejabat sipil (hakim, jaksa).

Keterangan dokter sebagai saksi ahli dapat dikatergorikan sebagagai alat bukti ; keterangan lisan (KUHAP pasal 186) maupun surat (KUHAP pasal 187) ; yang berwenang meminta keterangan saksi ahli adalah penyelidik (KUHAP pasal 5), penyidik dengan pangkat minimal pembantu letnan dua ; penyidik pembantu minimal sersan dua ; PNS minimal gol. II / b dan II / a (KUHAP pasal 6),  dan hakim.

Tata tertib otopsi :

  • Masyarakat umum tidak diijinkan berada dalam ruang otopsi.
  • Ahli waris / keluarga korban diberi kesempatan sejenak untuk melihat keadaan jenazah.
  • Jaga ketenangan, junjung tinggi etika dan jangan sia2kan jenazah.

Otopsi ini dilakukan untuk mencari :

  1. Sebab kematian (kausa).
  2. Mekanisme kematian
  3. Kemungkinan cara kematian (manner).

Bukti2 di tempat kejadian dapat berupa :

  • Cipratan darah pada dinding/atap
  • Sidik jari pada benda2 disekitar tempat tsb
  • Benda/senjata berlumuran darah
  • Mayat, etc.
  • Pada kasus pembunuhan atau bunuh diri, bukti yg paling penting adalah mayat itu sendiri.
  • Jika diamati dengan seksama, pada mayat dapat ditemukan tanda-tanda dari penyebab kematiannya, misalnya jejas jerat, luka tembak, dll.

Pemeriksaan luar :

Dilakukan dari ujung rambut kepala sd kaki, tujuannya :

  1. Menentukan identitas.
  2. Memastikan keamanan pengelolaan jenazah.
  3. Memeriksa benda-benda di sekitarjenazah.
  4. Menilai keadaan umum jenazah.
  5. Mencari tanda kematian sekunder.
  6. Mencari tanda kekerasan / kelainan.
  • Periksa apa adanya, menyeluruh (mis.penutup, kain, selimut, pakaian, dll)
  • Lepaskan seluruh penutup, periksa menyeluruh keadaan tubuh, ukuran2 tubuh, tanda kematian sekunder.
  • Periksa bagian per bagian secara teliti.

Pemeriksaan kepala :

  • Bentuk
  • Keadaan Umum ( utuh, hancur )
  • Rambut + Kulit kepala
  • Keadaan wajah (kelainan, luka2, tanda2 kekerasan, keluar cairan dari hidung dan mulut)
  • Telinga (daun telinga, liang telinga, keluar cairan ?)
  • Teraba derik / retak tulang ?

Pemeriksaan leher :

  • Perhatikan bentuk leher, jejas jerat, luka-luka / tanda kekerasan lainnya
  • Raba dan tentukan, adakah cerai sendi, patah tulang leher?

Pemeriksaan dada dan perut :

  • Perhatikan bentuk dada, simetris? tanda2 kekerasan : tusukan, bacokan, luka tembak, memar, raba adanya retak iga / retak tulang dada.
  • Perhatikan bentuk perut, bandingkan tinggi perut dengan dada, tanda kekerasan, keadaan umbilikus (pada kasus bayi).

Pemeriksaan pelvis :

  • Perhatikan daerah pubis, simetris?
  • Jenis kelamin dan keutuhannya, sekret, tanda kekerasan seksual?
  • Keadaan perineum, utuh / robek?
  • Keadaan anus, bentuknya, keluar feses?

Pemeriksaan ekstremitas :

  • Perhatikan bentuk umum, ada fraktur terbuka? Pada posisi anatomis : simetris? → untuk menilai adanya fraktur tertutup dan cerai sendi.
  • Lakukan perabaan / manipulasi untuk memastikan adanya fraktur / cerai sendi.
  • Jika ada tanda kekerasan, amati dan nilai distribusinya ; mis : luka2 tangkis pada extensor ekstremitas atas, memar pada bagian dalam paha, dll.
  • Amati adanya sianosis pada ujung jari – jari.

Pemeriksaan dalam :

  • Tujuan :
  1. Menemukan kelainan / hal2 patologis : di bawah lapisan2 tubuh / integumentum, di dalam rongga2 tubuh, pada organ.
  2. Mengukur dan menimbang organ serta cairan / substansi yg ditemukan.
  • Dimulai dengan seksi / irisan kulit.
  • Membuka, mengamati bagian dalam rongga tubuh (dada dan perut) dan kepala.
  • Mengangkat, melepaskan, mengukur, menimbang, memeriksa organ (termasuk membedah organ).

Hasil otopsi forensik :

Kemungkinan cara kematian bisa alamiah atau non-alamiah ; mis. pembunuhan, bunuh diri, dll.

  • Cara kematian adalah bagaimana suatu sebab kematian mengenai / sampai pada korban ; ada 5 kategori cara kematian
  1. Alamiah : Penyebab mayoritas kematian individu ; Termasuk antara lain karena penyakit, mis ada riwayat sakit jantung, dll ; Otopsi akan membuktikan adanya penyakit tersebut.
  2. Kecelakaan : Terjadi akibat keadaan yang tak disengaja, tanpa keinginan untuk menyebabkan kematian ; Dapat terjadi di tempat kerja, di rumah, dll ; Misadventure adalah kecelakaan yang menyebabkan kematian karena seseorang melakukan tindakan membahayakan yang seharusnya tidak ia lakukan (mis : olah raga ekstrim).
  3. Pembunuhan : Kematian sesorang akibat sengaja dilakukan oleh orang lain, merupakan suatu kejahatan ; Contoh umum seperti kasus penembakan, penusukan, pencekikan, dll ; Termasuk kategori ini adalah manslaughter, dimana seseorang melakukan penganiayaan tanpa bermaksud membunuh tapi korbannya meninggal. Macam – macam pembunuhan : Pembunuhan berencana : membunuh setelah dilakukan perencanaan yang tepat mengenai waktu, metode dengan tujuan memastikan keberhasilan pembunuhan dan menghindari penangkapan ; Pembunuh derajat kedua : membunuh dengan sengaja tanpa melakukan perencanaan ; Manslaughter involunter : kematian yang tidak diinginkan, sebagai hasil dari kelalaian yang nyata atau dalam pelaksanaan suatu pelanggaran (mis : pembunuhan pada perampokan yang gagal) ; Manslaughter volunter : kematian yang tidak diinginkan sebagai hasil dari pembelaan diri (mis : menusuk orang dalam perkelahian) ; Manslaughter vehicular : kematian yang tidak diinginkan sebagai hasil dari tindakan ilegal ketika menyetir kendaraan (mis : mobil menabrak pejalan kaki).
  4. Bunuh diri : Kematian seseorang karena perbuatan dan niatnya sendiri ; Jika usaha bunuh diri tapi gagal mati, pelaku dapat dikenai hukuman sebagaimana manslaughter.

Sebab kematian : luka tembak, luka kekerasan tajam, luka kekerasan tumpul, dll.

  • Otopsi merupakan cara yang paling akurat untuk menemukan sebab kematian seseorang.
  • Sebab kematian adalah luka / trauma / penyakit / racun yang mengganggu proses fisiologis dalam tubuh yang berakhir dengan kematian individu.
  • Sebab kematian akan menjawab pertanyaan mengapa ‘dia’ meninggal (misal pada kasus perdarahan eksternal masif) ; contoh :

1.Kasus kebakaran :

  • Pada korban meninggal kasus kebakaran, harus dibuktikan ada / tidaknya jelaga pada saluran napas.
  • Jika ada jelaga (dahak kehitaman karena butiran arang) berarti dia meninggal dengan mekanisme asfiksia.
  • Selanjutnya harus dibuktikan adanya kandungan racun (mis : CO, CN) pada sampel darahnya.

2.Kasus gantung :

  • Pada korban harus dicari ada / tidaknya tanda – tanda kekurangan oksigen (mis : sianotik pada ujung2 jari).
  • Jika ditemukan jejas dari tali / jejas alat gantung pada leher, harus dicari adanya tanda2 intravital pada jejas tsb.
  • Bila tidak ada tanda intravital (tanda yang menunjukkan jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma) berarti korban meninggal sebelum ter / digantung.

3.Kasus tenggelam :

  • Pada kasus ini harus ditemukan bukti bahwa dalam jalan napas serta paru dan lambung korban ditemukan air yang cocok dengan tempat dia tenggelam (diatom tes).
  • Harus ditemukan tanda-tanda perdarahan dalam paru sebagai bukti usaha korban untuk tetap bernapas dalam air.
  • Adanya hal2 di atas membuktikan suatu kasus tenggelam.

Mekanisme kematian :

  • Mekanisme kematian tergantung dari sebab kematian yang terlibat.
  • Mekanisme kematian adalah bagaimana penyebab kematian mengganggu proses fisiologis di dalam tubuh ; mis. kerusakan otak akibat tembakan di kepala, perdarahan, asfiksia, emboli, kerusakan organ, vagal reflex.

Perkiraan saat kematian dapat dilihat dari tanda-tanda tanatologis yang ada pada mayat.

2 thoughts on “Introduction to Forensic Autopsy

  1. maaf mau tanya..jika jelas2 d tubuh mayat telah patah kaki dan tanganya dan luka2 bacokan di sekujur tubuhnya, apakah msh perlu dilakukan otopsi?padahl bukti luar menunjukan tu pembunuhan dg cara kekerasan..trimakasih

    1. Perlu.. sebagai bukti bahwa kekerasan yang dilakukan tersebut benar yang menyebabkan kematian atau apakah ada penyebab kematian lain yang tidak diketahui..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s