Forensik

Otopsi Pada Kecelakaan Lalu Lintas

Secara umum otopsi dilakukan pada :

  • Kematian tidak wajar ; kasus kematian yang didahului oleh pelanggaran hukum, misalnya kematian karena pembunuhan atau kecelakaan lalu lintas.
  • Kematian wajar namun tidak terduga ; kasus kematian yang masih menimbulkan kecurigaan karena walaupun wajar namun terjadi secara tidak terduga sehingga perlu dilakukan konfirmasi mengenai penyebab kematiannya.

Tujuan otopsi pada kecelakaan lalu lintas :

  1. Mengetahui penyebab kematian.
  2. Memastikan bahwa kematian disebabkan oleh perlukaan yang didapat dari kecelakaan.
  3. Mendeteksi ada tidaknya tindak criminal dalam kecelakaan.
  4. Mengetahui faktor yang berkaitan dengan kecelakaan ;  misalnya alkohol, penyakit.
  5. Mengetahui keparahan perlukaan dan mendeskripsikan luka.
  6. Mengidentifikasi korban.
  7. Mencatat semua data yang diperlukan ; baik untuk keperluan sipil maupun kriminal.

Penyebab terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor :

1.       Alkohol dan obat – obatan ;

  • 65 – 75 % kecelakaan terjadi karena pengaruh alkohol pada pengemudi (bila pengemudi dianggap sebagai satu – satunya faktor penyebab).
  • 50 % pengemudi yang meninggal dalam kecelakaan berada dibawah pengaruh alkohol.
  • Ada yang merupakan substance abuse, ada yang medikasi.

2.       Human error ; mengebut, mengantuk, menyetir sembarangan.

3.       Environmental hazard ; kabut, jalan berlubang, jalan licin.

4.       Lain -lain ;

  • Kerusakan kendaraan.
  • Penyakit alami ;  serangan jantung.

Penyebab perlukaan pada korban :

  • Benturan antara korban dengan interior kendaraan ; misalnya pada kecelakaan mobil, dada terbentur setir.
  • Benturan antara korban dengan kendaraan atau objek lain yang melesak masuk ke kompartemen korban dan menghantam korban.
  • Perlukaan karena korban terlempar keluar kendaraan, baik sebagian maupun keseluruhan.
  • Terbakar ; jarang terjadi, biasanya karena kebocoran bahan bakar.

Penentu keparahan perlukaan :

1.       Kecepatan kendaraan (Krager et. al) :

  • Kecepatan minimal 27,5 km / jam menyebabkan fraktur servikal pada hampir 50% korban. Kecepatan > 67,5 km / jam menyebabkan fraktur servikal pada semua korban.
  • Kecepatan minimal 63 km / jam dapat menyebabkan ruptur aorta thorakalis.
  • Kecepatan > 85 km / jam selalu menyebabkan fraktur vertebra thorakalis disertai ruptur aorta thorakalis.
  • Kecepatan > 98 km / jam menyebabkan tubuh tercerai berai/teramputasi.

2.       Ukuran dan jenis kendaraan :

  • Kendaraan kecil lebih mudah menyerap energi dari tabrakan → perlukaan lebih parah.
  • Kendaraan besar dan pick – up lebih sulit menyerap energi dari tabrakan → lebih ringan perlukaannya.
  • Kecelakaan mobil sport bisa menyebabkan perlukaan yang lebih parah dan fatal karena mobil sport punya kecenderungan untuk terguling.

3.       Gaya yang bekerja :

  • G=C(V2)/D ; V: kecepatan km/jam, D: stopping distance (m) C: konstanta 0.0039

Contoh :  V= 80 km/jam, menabrak dinding hingga melesak ke dalam sejauh 25 cm, maka gaya deselerasi : 0.0039x 802/0,25= 99 G.

  • Semakin tinggi gaya yang bekerja maka perlukaan akan semakin parah.

4.       Objek yang ditabrak.

Dinamika kecelakaan lalu lintas :

Perlukaan jaringan disebabkan karena adanya perubahan kecepatan gerakan ->  akselerasi / deselerasi.

  • 60-80% adalah tabrakan frontal -> kekerasan karena deselerasi.
  • 6% adalah akselerasi kendaraan dan penumpang.
  • Sisanya adalah roll-over dan sideswipes.

Nb. Kematian lebih sering terjadi pada fatal multiple vehicle crash dibandingkan fatal single vehivle crash. Frekuensi paling sering untuk fatal single vehicle crash pada mobil sedan biasa adalah frontal impact sedangkan pada mobil pick-up adalah roll over. Frekuensi paling sering untuk fatal multiple vehicle crash pada mobil sedan biasa adalah frontal impact begitu pula apda mobil pick-up.

Kematian pada kecelakaan lalu lintas :

  1. Kematian seketika ; diakibatkan oleh hancurnya organ atau tubuh, perdarahan hebat, tersumbatnya jalan nafas oleh darah, terhimpitnya dada oleh bagian kendaraan.
  2. Kematian lambat ; diakibatkan oleh infeksi sistemik, perdarahan yang berlanjut serta embolisme.

Temuan pada otopsi kecelakaan lalu lintas :

1.       Kecelakaan mobil ;

Kategori kecelakaan mobil :

  • Front impact : tertabrak dari depan.
  • Side impact : tertabrak dari samping.
  • Rear impact : tertabrak dari belakang.
  • Roll – over : berguling.
  • Kombinasi : gabungan dari beberapa kategori kecelakaan mobil ; misalnya front dan rear impact secara bersamaan.
  • Pola perlukaan front impact :

§  Efek deselerasi mendadak :

o   Saat deselerasi mendadak supir dan penumpang depan yang tidak menggunakan sabuk pengaman akan bergerak ke arah depan atas. Kepala akan membentur kaca depan, dada supir akan membentur setir, dada penumpang depan akan membentur dashboard, kaki supir dan penumpang depan akan membentur dashboard bawah dan panel instrumen.

o   Saat deselerasi mendadak supir dan penumpang depan yang menggunakan sabuk pengaman tanpa airbag tetap akan bergerak ke depan walaupun kendaraan sudah berhenti. Kaki dan lutut akan membentur dashboard bawah dan panel instrumen, dada akan terfiksasi, dan kepala akan menggangguk ke depan (fleksi) sehingga dagu membentur tulang dada (sternum). Apabila tabrakan sangat dahsyat, kepala bisa membentur setir.

o   Kepala manusia bisa bergerak ke depan dan belakang -> human missile.

§  Perlukaan pada kepala dan leher :

o   Tidak menggunakan sabuk ; kepala supir dan penumpang depan bergerak ke arah depan atas saat deselerasi mendadak, menabrak kaca depan → luka iris dan memar pada dahi atau wajah, saat palpasi sering ditemukan pecahan kecil kaca tertanam pada luka, abrasi dan superficial cuts berorientasi vertikal.

o   Benturan kepala dengan frame di atas kaca depan mobil dapat menyebabkan fraktur dasar tengkorak, fraktur servikal, dislokasi sendi atlanto-oksipitalis.

o   Fraktur pada basis kranii ; hinge fracture

§  Perlukaan pada dada :

o   Pada supir akan terlihat jejas setir pada dada, fraktur pada sternum dan kosta.

o   Pada penumpang depan akan terjadi fraktur pada sternum dan kosta tanpa jejas setir.

o   Pada dada yang mengalami luka terbuka dapat ditemukan paru – paru yang kolaps akibat tertusuk kosta, ruptur jantung, hepar dam limpa.

§  Perlukaan pada ekstremitas :

o   Objek – objek pada panel instrumen dapat menimbulkan pola abrasi pada ekstremitas bawah.

o   Fraktur patella.

o   Fraktur distal femur.

o   Fraktur kolum femoris.

o   Dislokasi panggul.

§  Asfiksia traumatik : interior mobil yang melesak masuk ke ruang penumpang dapat menghimpit korban sehingga otot – otot dinding dada mengalami disfungsi sehingga terjadi gangguan pernafasan dan terjadi kematian.

  • Pola perlukaan side impact :

§  Tabrakan dari arah samping tepat pada kepala mobil ; efek dorongan dimulai dari bahu ke bawah, kepala akan bergerak ke samping membentur kaca jendela samping bahkan mungkin mobil penabrak.

§  Luka parah terjadi pada sisi tubuh yang terkena benturan ; dapat berupa memar, robek, tusukan akibat pecahan kaca, fraktur kosta, fraktur tengkorak.

§  Fraktur kosta pada sisi samping bawah mengakibatkan nyeri hebat sehingga sulit untuk menggerakkan dinding dada → gangguan pernafasan, dapat menyebabkan asfiksia.

  • Pola perlukaan rear impact :

§  Semua penumpang dalam mobil akan terhentak keras membentur sandaran belakang kepala di kursi.

§  Apabila penumpang menduduki kursi tanpa sandaran kepala dapat terjadi hiper-ekstensi ke belakang yang menyebabkan fraktur maupun dislokasi pada tulang servikal (whiplash injury).

§  Kepala penumpang belakang dapat membentur kaca belakang sehingga dapat terjadi luka akibat pecahan kaca dan fraktur kepala.

§  Dapat menyebabkan nyeri sendi leher, otot leher, maupun sakit kepala.

  • Pola perlukaan roll – over :

§  Penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman akan terguling seperti dikocok di dalam mobil.

§  Pola perlukaan tidak spesifik, dapat terjadi di seluruh area tubuh dan sangat bervariasi.

  • Perlukaan akibat safety devices :

§  Pemakaian sabuk yang terlalu ke atas pada tungkai bawah dapat menyebabkan efek jack – knife yang dapat mengakibatkan cedera pada vertebra lumbalis dan organ intra abdomen.

§  Sabuk pengaman pada bahu dapat menyebabkan cedera pada leher, punggung dan  dinding dada bila terjadi benturan keras dari arah depan.

§  Berbahaya pada wanita hamil.

§  Dapat menyebabkan kompresi organ dan fraktur vertebra.

§  Airbag hanya melindungi korban dari perlukaan akibat trauma frontal yang pertama, bukan trauma sekunder (+/- 70 %) -> tidak untuk menggantikan fungsi sabuk pengaman, hanya untuk pengaman tambahan.

2.       Kecelakaan motor ;

Benturan pada kecelakaan motor :

  • Benturan primer : benturan ketika pertama kali terkena lawan tabrakan.
  • Benturan sekunder : benturan akibat terpelanting → menyebabkan 70 % kematian pada kecelakaan motor.
  • Benturan dengan stang kemudi.
  • Perlukaan pada kepala :

§  Merupakan 80 % penyebab kematian pada kecelakaan motor.

§  Kebanyakan akibat benturan sekunder.

§  Jatuh pada kepala bagian belakang, kepala belakang akan membentur objek kemudian terjadi mekanisme countercoup, otak mengalami lecutan dari belakang sehingga lobus frontal akan mengalami kontusio akibat membentur tulang dahi.

§  Fraktur temporo – parietal (paling banyak) → saat palpasi seperti meraba kerupuk (krepitasi).

§  Fraktur basis krani → hinge fraktur ; khas pada kecelakaan motor, fraktur dari fossa posterior menyilang ke fossa anterior sisi yang berlawanan (kiri ke kanan ; kanan ke kiri).

§  Kerusakan otak dan fraktur servikal.

§  Pemakaian helm menurunkan insidensi trauma kepala pada kecelakaan low speed, sedangkan pada kecelakaan moderate dan high speed hanya mencegah agar material otak dan kepala tidak tercecer ke luar.

  • Perlukaan pada ekstremitas :

§  Ekstremitas atas ; biasanya terjadi karena benturan sekunder akibat terpental, dapat berupa fraktur, memar, bahkan avulsi.

§  Ekstremitas bawah ; biasanya terjadi karena benturan primer, misalnya fraktur tibia pada titik benturan dengan mobil.

  • Perlukaan pada anggota tubuh lainnya :

§  Pada pengemudi dapat ditemukan perlukaan pada perut dan dada akibat benturan dengan stang kemudi.

§  Distribusi luka lain pada pengemudi dan penumpang umumnya sama.

3.       Pejalan kaki ;

Dapat akibat tertabrak mobil atau motor. Benturan pada pejalan kaki :

  • Benturan primer : benturan antara pejalan kaki dengan kendaraan penabrak.
  • Benturan sekunder : benturan antara pejalan kaki dengan kendaraan maupun permukaan jalan → korban dengan berat badan besar terpental lebih parah bila dibandingkan dengan korban yang berat badannya kecil ; terkait dengan gravitasi.
  • Benturan tersier : benturan akibat terlempar setelah benturan kedua terjadi.
  • Efek tabrakan :

§  Pada orang dewasa :

o   Pada posisi berdiri, titik gravitasi seorang dewasa terdapat pada regio abdomen. Bila titik benturan sama atau lebih tinggi dari titik gravitasi tersebut, maka akan berakibat korban terpental searah laju kendaraan ; misal tertabrak oleh bus atau truk.

o   Bila titik benturan lebih rendah dari titik gravitasi tubuh, maka korban akan terlempar ke atas ; missal tertabrak sedan.

§  Pada anak kecil :

o   Baik tabrakan oleh kendaraan besar maupun kecil, anak kecil akan terjerembab searah laju kendaraan kemudian dapat terseret atau terlindas, terutama bila tidak sempat terjadi pengereman.

o   Jika tertabrak sedan dan sempat terjadi pengereman sebelumnya, maka umumnya anak akan terlempar searah laju sedan dan umumnya mengalami fraktur pada femur oleh benturan primer.

  • Tertabrak mobil :

§  Benturan primer dengan kendaraan kelas sedan :

o   85% perlukaan terjadi pada tungkai bawah.

o   Fraktur tibia dan fibula merupakan cedera khas akibat benturan primer dengan bumper ( bumper fracture ).

o   Dari bentuk fraktur pada tungkai, dapat diperkirakan arah benturan primer. Bila tertabrak dari belakang maka akan terbentuk tonjolan fraktur bahkan robekan otot dan kulit (pada fraktur terbuka) pada sisi depan tungkai. Berlaku kebalikannya.

§  Benturan sekunder dan tersier pada kendaraan kelas sedan :

o   Umumnya berakibat perlukaan pada kepala yang bersifat fatal

o   Setelah terpental ke atas dan kemudian jatuh ke jalan, korban dapat terlanggar hingga kolong mobil dan terseret sambil tergulung yang berakibat pengelupasan kulit dan otot yang parah, dikenal sebagai ROLLING INJURIES.

  • Tertabrak kendaraan besar :

§  Perlukaan terjadi terutama akibat benturan primer dan biasanya fatal, baik pada kepala, leher, tubuh, maupun ekstremitas.

§  Tidak jarang setelah terpental, korban terlindas ban sehingga dapat ditemukan jejas ban (tire mark)  pada bagian yang terlindas .

§  Bila truk/bus bermuatan penuh, maka korban yang terlindas akan menjadi hancur dan sulit dikenali.

  • Tertabrak motor :

§  Perlukaan hampir sama dengan korban tertabrak mobil, kecuali :

  • Sering ditemukan perlukaan akibat tersambar stang pada daerah perut / pinggang.
  • Perlukaan / fraktur umumnya terjadi pada salah satu sisi tubuh.

§  Pengemudi motor biasanya mengalami luka lebih parah dibandingkan korban pejalan kaki yang ditabrak.

Kecelakaan pada Kereta Api, Kapal Laut dan Pesawat Terbang

Faktor penyebab kecelakaan : human error, cuaca, defek mekanik, kombinasi.

Peran dokter pada kecelakaan :

1.       Identifikasi korban.

2.       Dokumentasi luka.

3.       Menentukan faktor kecelakaan.

4.       Mencari ada tidaknya perlukaan yang tidak terkait dengan kecelakaan.

5.       Otopsi pada korban spesifik dalam rangka menentukan bagaimana kecelakaan terjadi.

Perlukaan pada korban : luka tumpul ; luka tajam ; luka tertusuk ; luka bakar -> tentukan derajatnya dengan rule of nine ; tenggelam.

Kapan pesawat terbang mengalami kecelakaan : 36.9 % saat mendarat ; 34.9 % saat lepas landas ; 26.4 % di tengah – tengah penerbangan ; 1.8 % saat parkir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s