Forensik

Kecelakaan Motor

Penggunaan motor sebagai alat transportasi semakin bertambah terutama di negara berkembang. Hal ini disebabkan oleh harga motor yang terjangkau bila dibandingkan dengan mobil (ekonomi), menjamurnya komunitas motor (gaya hidup), serta kemudahan pengguna motor untuk melewati kemacetan dan jalanan yang sempit, padahal motor merupakan mode transportasi yang berbahaya dan vulnerable.

Pengguna jalan yang vulnerable antara lain pejalan kaki, pengemudi motor, pengemudi sepeda. Dari 1.2 juta kematian akibat kecelakaan di seluruh dunia, 46 % terjadi pada pengguna jalan yang vulnerable. Pada negara berkembang, meningkatnya pengguna motor tidak dibarengi dengan pendidikan yang seimbang sehingga kematian umumnya terjadi karena tidak menggunakan helm, kelebihan muatan dalam motor, dan kurangnya regulasi. Pada negara berkembang kasus kecelakaan motor masih tidak tercatat dengan baik. Di Indonesia kematian akibat kecelakaan motor mencapai 61.72 % dan 38.28 % sisanya diakibatkan oleh kecelakaan mobil. Di Amerika Serikat sendiri terjadi pola meningkat pada jumlah pengguna motor, kecelakaan motor dan kematian akibat kecelakaan per tahunnya. Risiko kematian akibat mengendarai motor per kilometernya 20x lebih besar daripada menggunakan mobil.

Karakteristik kecelakaan motor :

1.       Posisi korban

  • Kebanyakan yang terluka adalah pengemudi, kemudian diikuti penumpang dan pejalan kaki.
  • Pada penumpang wanita ada peningkatan risiko terjadinya fraktur pada kepala dan leher serta perlukaan pada ekstremitas atas, sedangkan pada ekstremitas bawah lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh posisi duduk wanita saat menumpangi motor dan pakaian yang dikenakan. Adanya risiko terlempar dengan tangan yang teregang keluar menyebabkan trauma langsung pada kepala dan leher.

2.       Bagian yang terluka dan penggunaan alat pengaman

  • Kausa utama kematian dan kecacatan adalah trauma pada kepala dan ekstremitas. Dapat terlihat pada prosedur operasi yang paling sering dilakukan pada kecelakaan, yaitu reparasi fraktur ekstremitas (91 %) dan kraniotomi (3 %).
  • Trauma pada kepala meningkatkan kemungkinan kematian 5-6x lipat.
  • Trauma lebih sering pada ekstremitas bawah. 49.8 % kasus fraktur terjadi pada tibia dan fibula, kemudia 19.9 % pada femur. Pada kaki angka kejadiannya masih rendah, hanya 5 %.
  • Edukasi untuk menggunakan helm masih rendah di negara berkembang. Di Nigeria hanya 34.5 % pengemudi yang menggunakan helm, sehingga meningkatkan mortalitas pada kecelakaan motor
  • Di India 71 % pengemudi tidak menggunakan helm, sedangkan 99.2 % penumpang tidak menggunakan helm.

3.       Mekanisme kecelakaan

  • Bisa tabrakan dari depan, rear, roll-over dan non-collision.
  • Di Teheran 72.5 % mekaniisme kecelakaan terjadi karena motor berbenturan dengan kendaraan lain (collision), menyebabkan proporsi yang tinggi pada keparahan luka dan kematian.
  • Paling fatal karena tabrakan dari depan.

4.       Kondisi yang mempengaruhi pengemudi

  • 55 % pengemudi dan penumpang motor di India berada dalam pengaruh alkohol.
  • Pencatatan penggunaan alkohol pada pengguna motor di negara berkembang sudah baik -> lakukan program pencegahan.
  • Pengemudi motor yang mabuk akan menurun kemampuan meyetirnya secara signifikan.

Perbandingan motor dan mobil :

1.       Mobil

Nilai Positif Efek
Ukuran lebih besar, berat Lebih stabil
4 roda
Memiliki pintu dan atap Proteksi dari impact dan roll-over
Memiliki airbag Meminimalisir impact
Memiliki safety belt Mencegah terlempar
Memiliki pembersih windshield Memberi penglihatan yang jelas saat hujan

2.       Motor

Negatif Efek
Ukuran kecil, ringan Stabilitas tergantung pengemudi
Roda 2
Tidak memiliki kerangka Direct impact saat kecelakaan
Tidak memiliki airbag
Tidak memiliki safety belt Mudah terlempar
Tidak memiliki windshield Penglihatan sulit
Positif : > agilitas ; lebih mudah dimanuver ; lebih mudah diberhentikan ; mampu swerve secara cepat

Pencegahan :

  • Semua pihak terlibat :
  1. Pemerintah : membuat kebijakan mengenai pembelian motor dan penggunaan pengaman.
  2. Departemen transportasi : menyediakan jalan yang aman dan berkualitas ; menyediakan rambu – rambu yang tepat serta melakukan sosialisasi.
  3. Polisi : melakukan inspeksi SIM dan penggunaan alat pengaman pada pengguna motor.
  4. Departemen dan tenaga kesehatan : promosi kesehatan dan meningkatkan kemampuan kuratif persoel pada kasus kecelakaan.
  5. Pengemudi : mengemudi secara benar ;
  • jangan mengemudi pada blind spot (daerah dimana pengemudi kendaraan lain tidak bisa melihat motor -> di samping kiri atau kanan kendaraan).
  • hindari kendaraan yang sedang mundur.
  • nyalakan lampu motor siang dan malam.
  • menyetir secara aman ; hormati kendaraan lain, gunakan sinyal2 dan lampu untuk berkomunikasi, mengetahui dan mematuhi rambu, pilih motor yang tepat (amati tinggi, berat, ukuran, power, kontrol kemudi, tempat duduk penumpang dan tempat kaki penumpang pada motor ; pertimbangkan penggunaan primernya di jalan seperti apa ; motor ukuran besar dan kuat untuk berkendara jauh ; pilih yang sesuai), hindari suara yang berisik, hindari tailgating, mengemudi secara defensif (waspada, hati – hati di perempatan, melihat spion sebelum berbelok, amati rambu dan permukaan jalan, bereaksi cepat, hati – hati saat hujan, mengemudi di kecepatan aman secara konsisten, tidak menggunakan telefon genggam).
  • Penggunaan pakaian protektif dan peralatan proteksi lain akan menciptakan perlindungan 3 lapis pada pengguna motor, yaitu proteksi dari perlukaan, meningkatkan kenyamanan dan pencegahan kecelakaan (karena material – material berwarna -> meningkatkan visibilitas).
  • Jangan lupa menyalakan lampu motor supaya terlihat.

Macam – macam pengaman :

  • helm : mengencang saat berkendara, nyaman dan pas di kepala, melindungi kepala, SNI (Indonesia), DOT (Amerika Serikat).
  • faceshield, googles, glasses : melindungi mata dari angin ; serangga ; batu ; atau substansi lain, harus bebas dari scratch, well-ventilated supaya asap tidak masuk.
  • gloves ; non-slip type, bahan durable, bahan dari kulit di telapak tangan, grip strips pada jari
  • jaket dan celana panjang ; jaket harus berlengan panjang, celana tidak boleh longgar, menggunakan bahan yang durable, misalnya kulit, berwarna terang dengan material yang reflektif supaya terlihat, menggunakan elbow dan knee-pad untuk mencegah abrasi.
  • boot : paling baik adalah boot kulit
  • bottom line

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s