Anak

Diagnosis Pada Infeksi Dengue

Virus Dengue

Virus dengue termasuk dalam genus Flavivirus dan mempunyai 4 serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.

  • Infeksi oleh salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan namun tidak untuk serotipe lain sehingga imunitas yang terbentuk di dalam tubuh hanyalah terhadap serotipe yang bersangkutan, tidak terhadap serotipe lain.
  • Hal ini memungkinkan seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe virus selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.
  • Hal ini menyebabkan kesulitan dalam pembuatan vaksin dengue, karena harus membuat vaksin yang kebal terhadap keempat serotipe dengue. Kekebalan hanya terhadap satu serotipe dengue malah akan membahayakan apabila individu terserang infeksi dari serotipe yang berbeda karena akan terjadi manifestasi yang lebih parah (manifestasi lebih parah infeksi dengue terjadi pada infeksi sekunder oleh serotipe berbeda)
  • Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak menimbulkan manifestasi klinis yang berat.

Virus dengue merupakan virus RNA dengan 11000 basa genom yang mengkode 3 protein struktural (capsid protein C, membrane protein M, envelope protein E), 7 protein non-struktural (NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, NS5) dan short non-coding regions pada akhiran 5’ dan 3’.

Cara Penularan

Nyamuk Aedes aegypti betina merupakan vektor utama penyebar virus dengue, namun tidak hanya Aedes aegypti, nyamuk aedes lain juga dapat menjadi vektor dengue di daerah tertentu, contohnya Aedes pseudoscutallaris di New Guinea dan Aedes niveus di Filipina.

  • Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul pertama kali, dimana virus yang berada dalam darah manusia juga ikut terhisap ke dalam tubuh nyamuk.
  • Setelah nyamuk menggigit manusia yang viremia maka virus akan masuk ke dalam tubuh nyamuk dan kemudian berkembang di dalam tubuh nyamuk selama 8 – 10 hari. Setelah 8 – 10 hari virus akan sampai di kelenjar air liur nyamuk dan siap ditularkan kepada manusia lain ketika nyamuk mengigit manusia tersebut.
  • Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk maka nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama sisa hidupnya (infektif), yaitu kurang lebih 1 – 4 minggu.
  • Masa inkubasi virus di dalam tubuh manusia atau periode sejak virus dengue menginfeksi tubuh manusia sampai timbulnya gejala adalah 3 – 14 hari dengan rata – rata 4 – 7 hari.

Patogenesis

Virus merupakan mikrooganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup, maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu, bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibodi, namun bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Patogenesis DBD (demam berdarah dengue) dan SSD (sindrom syok dengue) masih merupakan masalah yang kontroversial. Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan patogenesis terjadinya DBD dan SSD.

Teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang berbeda dengan yang menginfeksinya sebelumnya mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita DBD / manifestasi berat. Antibodi dari serotipe berbeda yang telah ada sebelumnya akan mengenai serotipe virus lain yang sedang menginfeksi saat itu dan membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Oleh karena antibodi tersebut sebenarnya antibodi untuk melawan antigen dari serotipe yang sebelumnya maka virus dengan serotipe berbeda yang menginfeksi saat ini tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag.

Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respon antibodi anamnestik akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen virus-antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan anafilatoksin C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 yang mempunyai kemampuan untuk menstimulasi sel mast melepaskan histamin yang merupakan mediator kuat untuk meningkatkan permeabilitas kapiler menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular.

Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya, peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium, dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal oleh karena itu, pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian.

Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama iain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.

Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan memperberat syok yang terjadi.

Hipotesis lain menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar.

Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris.

Spektrum Klinis

Infeksi virus dengue memiliki spektrum klinis yang luas, dapat menyebabkan keadaan yang bermacam -macam, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile illness), Demam Dengue, atau bentuk yang lebih berat yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue (SSD). Parah tidaknya infeksi virus dengue tergantung dari faktor yang mempengaruhi daya tahan tubuh host dan faktor – faktor yang mempengaruhi virulensi virus.

Seperti yang kita lihat dari gambar di atas, baik demam dengue maupun demam berdarah dengue keduanya dapat menimbulkan manifestasi perdarahan, jadi yang perlu dicatat disini manifestasi perdarahan bukanlah hal yang membedakan demam dengue dan demam berdarah dengue. Hal yang membedakan keduanya adalah ada tidaknya kebocoran plasma (sesuai teori secondary infection yang sudah dibahas sebelumnya dalam patogenesis).

Demam Dengue

Gejala klasik dari demam dengue ialah gejala demam tinggi mendadak, kadang-kadang bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri belakang bola mata, nyeri otot, tulang, atau sendi, mual, muntah, dan timbulnya ruam. Ruam berbentuk makulopapular yang bisa timbul pada awal penyakit (1-2 hari) kemudian menghilang tanpa bekas dan selanjutnya timbul ruam merah halus pada hari ke-6 atau ke-7 terutama di daerah kaki, telapak kaki dan tangan. Selain itu, dapat juga ditemukan petekia. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan leukopeni kadang-kadang dijumpai trombositopeni. Masa penyembuhan dapat disertai rasa lesu yang berkepanjangan, terutama pada dewasa. Pada keadaan wabah telah dilaporkan adanya demam dengue yang disertai dengan perdarahan seperti : epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna, hematuri, dan menoragi. Demam Dengue (DD) yang disertai dengan perdarahan harus dibedakan dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) dimana pada penderita Demam Dengue tidak dijumpai kebocoran plasma sedangkan pada penderita DBD dijumpai kebocoran plasma yang dibuktikan dengan adanya hemokonsentrasi, pleural efusi dan asites. Definisi kasus untuk demam dengue oleh guideline WHO adalah sebagai berikut :

Kemungkinan DD adalah penyakit demam yang akut dengan 2 atau lebih manifestasi di bawah :

  • Sakit kepala
  • Nyeri retroorbital
  • Nyeri otot dan tulang
  • Rash
  • Manifestasi perdarahan
  • Leukopenia ; dan
  • Hasil serologi yang mendukung ; atau
  • Berasal dari lokasi yang saat itu terkonfirmasi memiliki banyak kasus dengue

DD yang terkonfirmasi adalah kasus yang terkonfirmasi oleh kriteria laboratorium (isolasi virus dengue, meningkatnya titer antibodi virus, demonstrasi antigen virus dengue atau sekuens genomik).

Demam Berdarah Dengue

Bentuk klasik dari DBD ditandai dengan demam tinggi, mendadak 2-7 hari, disertai dengan muka kemerahan. Keluhan seperti anoreksia, sakit kepala, nyeri otot, tulang, sendi, mual, dan muntah sering ditemukan. Beberapa penderita mengeluh nyeri menelan dengan farings hiperemis ditemukan pada pemeriksaan, namun jarang ditemukan batuk pilek. Biasanya ditemukan juga nyeri perut dirasakan di epigastrium dan dibawah tulang iga. Demam tinggi dapat menimbulkan kejang demam terutama pada bayi. Bentuk perdarahan yang paling sering adalah uji tourniquet (rumple – leede) positif, kulit mudah memar dan perdarahan pada bekas suntikan intravena atau pada bekas pengambilan darah. Kebanyakan kasus, petekia halus ditemukan tersebar di daerah ekstremitas, aksila, wajah, dan palatumole, yang biasanya ditemukan pada fase awal dari demam. Epistaksis dan perdarahan gusi lebih jarang ditemukan, perdarahan saluran cerna ringan dapat ditemukan pada fase demam. Hati biasanya membesar dengan variasi dari just palpable sampai 2-4 cm di bawah arcus costae kanan. Sekalipun pembesaran hati tidak berhubungan dengan berat ringannya penyakit namun pembesar hati lebih sering ditemukan pada penderita dengan syok. Masa kritis dari penyakit terjadi pada akhir fase demam, pada saat ini terjadi penurunan suhu yang tiba-tiba yang sering disertai dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi dalam berat-ringannya. Pada kasus dengan gangguan sirkulasi ringan perubahan yang terjadi minimal dan sementara, pada kasus berat penderita dapat mengalami syok. Untuk memenuhi kriteria definisi kasus demam berdarah dengue oleh guideline WHO semua kriteria dibawah harus terpenuhi :

Demam atau riwayat demam akut yang berlangsung 2 – 7 hari, dan biasanya bifasik

Kecenderungan perdarahan ; dibuktikan dengan paling tidak satu dari gejala berikut :

  • Tes torniquet (+)
  • Petekia, ekimosis atau purpura
  • Perdarahan dari mukosa, traktus gastrointestinal, atau situs bekas injeksi maupun pemasangan infus vena
  • Hematemesis atau melena

Trombositopenia (kurang dari 100.000 sel / mm3)

Bukti adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas vaskuler yang dibuktikan dengan paling tidak satu dari gejala berikut :

  • Peningkatan hematokrit lebih dari sama dengan 20 % diatas rata – rata berdasar usia, jenis kelamin dan populasi
  • Penurunan hematokrit sebanyak lebih dari sama dengan 20 % dari baseline setelah terapi penggantian cairan
  • Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, ascites dan hipoproteinemia

Dari guideline WHO DBD juga dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan keparahannya. DBD derajat 1 didefinisikan sebagai demam dengan tanda dan gejala konstitusional yang tidak spesifik ; manifestasi perdarahan yang muncul hanyalah TT (+) dan atau mudah memar. DBD derajat 2 sama dengan DBD derajat 1 namun ditambah dengan adanya perdarahan spontan. DBD derajat 3 merupakan kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan nadi yang cepat dan lemah, sempitnya jarak tekanan nadi atau hipotensi dengan ekstremitas yang dingin dan kegelisahan. DBD derajat 4 adalah syok berat dengan nadi atau tekanan darah yang tak teraba. DBD derajat 3 dan 4 merupakan bentuk SSD.

Sindrom Syok Dengue

Syok biasa terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke 3 sampai hari sakit ke-7. Pasien mula-mula terlihat letargi atau gelisah kemudian jatuh ke dalam syok yang ditandai dengan kulit dingin-lembab, sianosis sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan nadi < 20 mmHg dan hipotensi. Kebanyakan pasien masih tetap sadar sekalipun sudah mendekati stadium akhir. Dengan diagnosis dini dan penggantian cairan adekuat, syok biasanya teratasi dengan segera, namun bila terlambat diketahui atau pengobatan tidak adekuat, syok dapat menjadi syok berat dengan berbagai penyulitnya seperti asidosis metabolik, perdarahan hebat saluran cerna, sehingga memperburuk prognosis. Pada masa penyembuhan yang biasanya terjadi dalam 2-3 hari, kadang-kadang ditemukan sinus bradikardi atau aritmia, dan timbul ruam pada kulit. Tanda prognostik baik apabila pengeluaran urin cukup dan kembalinya nafsu makan. Penyulit SSD : penyulit lain dari SSD adalah infeksi (pneumonia, sepsis, flebitis) dan terlalu banyak cairan (over hidrasi), manifestasi klinik infeksi virus yang tidak lazim seperti ensefalopati dan gagal hati. Untuk memenuhi kriteria definisi kasus SSD oleh guideline WHO 4 kriteria DBD harus ada (demam, kecenderungan perdarahan, trombositopenia, kebocoran plasma) ditambah tanda adanya kegagalan sirkulasi, yaitu :

  • Nadi cepat dan lambat
  • Jarak tekanan nadi yang sempit (< 20 mmHg) ; atau
  • Hipotensi berdasar usia (tekanan sistolik < 80 mmHg untuk usia < 5 tahun ; 90 mmHg untuk usia >= 5 tahun)
  • Ekstremitas dingin dan gelisah

Dalam konteks penerapan, klasifikasi WHO untuk DD, DBD dan SSD di praktek kesehatan primer negara – negara yang endemik dengue bisa jadi masih kurang tepat, dikarenakan pada kenyataannya :

  • Adanya overlap pada gejala – gejala antara DD dan DBD ; ex. DD juga bisa memiliki manifestasi trombositopenia dan perdarahan
  • 4 gejala yang diharuskan WHO untuk ada sebagai definisi kasus DBD (demam, kecenderungan perdarahan, trombositopenia, tanda kebocoran plasma) tidak selalu dapat terpenuhi atau terdeteksi semuanya ; penghitungan platelet saja secara tunggal tidak selalu dapat menunjukkan trombositopenia, untuk mendeteksi trombositopenia dan kebocoran plasma dibutuhkan tes lab yang mungkin terkadang tidak tersedia di pusat pelayanan kesehatan primer di negara – negara endemik dengue ; manifestasi perdarahan tidak selalu ada di dengue berat fase awal.
  • Istilah “DBD” yang menekankan pada “perdarahan” menjadi salah kaprah karena sebenarnya yang ditekankan disini adalah ada tidaknya kebocoran plasma akibat meningkatnya permeabilitas vaskuler ; perdarahan bisa terjadi maupun tidak terjadi pada dengue berat begitu pula sebaliknya di dengue tanpa komplikasi.

Untuk itu dilakukan penyederhanaan untuk klasifikasi infeksi dengue yang tidak terlalu menitik beratkan pada perdarahan atau penghitungan platelet. Penyederhaan tersebut adalah sebagai berikut :

Dengan klasifikasi yang disederhanakan ini, permeabilitas vaskuler yang menyebabkan adanya kebocoran plasma akan menjadi tanda untuk dengue berat. Tanda awal kebocoran plasma antara lain hemokonsentrasi, efusi pleura atau ascites. Tanda bahaya dari dengue berat antara lain kegagalan sirkulasi atau syok (ekstremitas dingin, nadi radial lemah, CRT >>), gangguan kesadaran (tidak sadar, letargi), perdarahan mukosa (hematemesis, melena, perdarahan gusi) dan manifestasi tidak biasa seperti kerusakan hepar, kardiomiopati atau ensefalopati.

Pemeriksaan Penunjang

Tujuan pemeriksaan penunjang :

  1. Mendeteksi ada tidaknya infeksi dengue
  2. Mengetahui apakah merupakan demam dengue atau demam berdarah dengue

Sekarang terdapat berbagai pemeriksaan yang bisa digunakan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi dengue dan apakah infeksi dengue merupakan demam dengue saja atau demam berdarah dengue. Untuk memilih pemeriksaan apa yang akan dilakukan sebaiknya berdasar kepada pengetahuan tentang jenis pemeriksaan penunjang dan perjalanan penyakit.

Pemeriksaan NS1

NS1 merupakan antigen virus yang dimiliki oleh semua jenis serotipe virus dengue, dapat ditemukan dalam jumlah yang tinggi saat infeksi akut, baik pada infeksi primer maupun infeksi sekunder. NS1 diperlukan untuk kelangsungan hidup virus namun belum diketahui aktivitas biologisnya.

Keuntungan pemeriksaan NS1 Antigen Rapid Strip dalah dapat lebih cepat dalam mendeteksi adanya infeksi virus dengue (deteksi dini) sejak awal timbulnya demam (demam hari ke-1 sampai hari ke-5). Dari berbagai penelitian menunjukkan sensitivitas pemeriksaan ini 92,3 % dan   spesifisitas 100 % untuk mendeteksi virus dengue. Pemeriksaan NS1 terutama efektif mulai hari ke-2 demam. Hal ini disebabkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan NS1 pada hari ke-2 merupakan yang paling tinggi sedangkan mulai hari ke-3 dan seterusnya akan mulai menurun secara berangsur.

Hasil pemeriksaan NS1 yang positif tidak bisa digunakan untuk membedakan apakah individu terserang demam dengue atau demam berdarah dengue. Pemeriksaan NS1 yang positif hanya menunjukkan bahwa individu tersebut sedang terinfeksi oleh virus dengue. Tidak menunjukkan infeksi primer ataupun sekunder dan oleh serotipe yang mana.

Pemeriksaan Darah Rutin

Pemeriksaan darah rutin terutama diperlukan untuk membedakan apakah kasus infeksi dengue ini merupakan kasus demam dengue atau demam berdarah dengue. Yang penting dilihat dari pemeriksaan darah rutin adalah angka hematokrit dan trombosit pasien.

Hematokrit :

  • Darah terdiri dari komponen sel (sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dll) dan komponen cair (plasma). Pada pasien dengan demam berdarah dengue dimana terjadi kebocoran plasma darah angka hematokrit akan meningkat. Hal ini disebabkan darah menjadi pekat oleh komponen sel karena komponen cair darah, yaitu plasma, bocor ke ruang ekstravaskular (luar pembuluh darah, bisa saja di antar sel ; interstisial atau di dalam sel ; intrasel) sehingga yang tetap ada di dalam pembuluh darah terutama adalah komponen sel darah. Sedangkan pada kasus demam dengue tidak terjadi manifestasi bocornya plasma sehingga tidak terjadi peningkatan hematokrit.
  • Penilaian angka hematokrit tidak cukup hanya dengan satu kali pemeriksaan darah rutin, harus dilihat melalui pemeriksaan hematokrit serial dimana pemeriksaan darah rutin dilakukan setiap hari atau 2 hari sekali dan dilihat serta dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sebelumnya ada tidaknya penurunan.

Trombosit :

  • Berdasarkan patogenesis yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada kasus demam berdarah dengue angka trombosit akan menurun tajam disebabkan oleh terjadinya koagulopati konsumtif dan dihancurkannya trombosit oleh sistem RES. Sedangkan pada demam dengue tidak terjadi koagulopati konsumtif dan penghancuran trombosit oleh RES sehingga tidak terjadi penurunan trombosit, kalaupun ada tidak akan setajam pada demam berdarah dengue dan jarang sampai di bawah angka 100.000.
  • Penilaian angka troombosit tidak cukup hanya dengan satu kali pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah rutin dilakukan setiap hari atau 2 hari sekali dan dilihat serta dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sebelumnya ada tidaknya penurunan. Apabila mendadak terjadi penurunan tajam, merupakan tanda bahaya dan sebaiknya pasien di rawat inap di rumah sakit untuk mencegah terjadinya sindrom syok dengue.

Pemeriksaan Dengue Blood

Pemeriksaan dengue blood digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi IgM dan IgG dengue. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan serotipe yang menginfeksi individu, namun dapat digunakan untuk mengetahui apakah individu sedang terserang infeksi dengue dan membedakan apakah kasus merupakan demam dengue atau demam berdarah dengue. Pemeriksaan ini baik dilakukan mulai hari ke-5 demam. IgM akan terbentuk pada demam hari ke-4 sedangkan IgG akan terbentuk pada demam hari ke-14.

Pada kasus demam dengue dimana infeksi merupakan infeksi primer dan serotipe yang menyerang indvidu hanya satu serotipe maka pada pemeriksaan dengue blood di demam hari ke-5 akan ditemukan IgM yang positif sedangkan IgG negatif karena IgG belum terbentuk.

Pada kasus demam berdarah dengue dimana infeksi merupakan infeksi sekunder dan serotipe yang menyerang berbeda dengan serotipe pada infeksi sebelumnya maka pada pemeriksaan dengue blood di demam hari ke-5 akan ditemukan IgM yang positif dan IgG juga positif. Namun, IgG yang positif disini bukan merupakan IgG yang dibentuk dari infeksi sekunder oleh serotipe yang berbeda tersebut, melainkan IgG yang merupakan hasil respon antibodi anamnestik.

Respon antibodi anamnestik adalah munculnya antibodi yang lebih cepat karena adanya sel memori di sistem imun ketika tubuh terpapar oleh antigen yang sama kedua kalinya. Jadi di kasus demam berdarah dengue, sistem imun tubuh salah menginterpretasikan infeksi oleh serotipe di infeksi sekunder dengan serotipe pada infeksi primer. Oleh sebab itu pada pemeriksaan dengue blood di demam hari ke-5 sudah muncul IgG, namun merupakan IgG untuk melawan serotipe pada infeksi primer, bukan infeksi yang saat ini terjadi. Oleh sebab itu virus tidak tereliminasi oleh antibodi IgG tersebut dan tetap bisa bereplikasi. Kesalahan ini disebabkan oleh kemiripan antar serotipe virus dengue. IgG untuk serotipe yang saat ini sedang menginfeksi individu tetap akan terbentuk pada demam hari ke-14 dan tidak muncul lebih cepat, karena kekebalan terhadap satu serotipe dengue tidak bisa digunakan untuk melawan serotipe lain, jadi kekebalan yang terbentuk adalah berbeda untuk tiap serotipe.

One thought on “Diagnosis Pada Infeksi Dengue

  1. sekedar sharing bahwa saya sedang mengalami sakit dengue dimana hasil pemeriksaan pada hari kedua demam didapatkan igg igm positif.dimana hasil igg positif merupakan imunitas dari sakit dengue terdahulu sekitar 3 tahun yang lalu.trm ksh wass….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s