Kulit & Kelamin

Pitiriasis Vesikolor (Tinea Flava)

Pendahuluan

Pitiriasis vesikolor merupakan infeksi jamur superfisial yang kronis pada kulit, disebabkan oleh jamur Malassezia furfur (juga dikenal sebagai Pitirosporum ovale atau Pitirosporum orbikulare), yang ditandai dengan makula (bercak datar) hipo / hiperpigmentasi dengan skuama halus, muncul terutama pada badan.

Malassezia furfur merupakan suatu jamur lipofilik. Secara normal pada saat pubertas Malassezia furfur mulai ada pada keratin kulit dan folikel rambut manusia, maka pitiriasis vesikolor sebenarnya lebih merupakan suatu kondisi dimana terjadi pertumbuhan yang berlebih dari flora normal kutan. Infeksi Malassezia furfur tidak menular.

Onset terjadinya pitiriasis vesikolor terutama pada saat dewasa muda. Kejadiannya mulai berkurang pada individu berusia 50 dan 60 tahunan. Tidak umum terjadi pada individu yang produksi sebumnya berkuang atau tidak ada. Durasi terjadinya pitiriasis vesikolor bervariasi mulai dari beberapa bulan – tahun (kronis).

Faktor predisposisi terjadinya pitiriasis vesikolor antara lain :

  • Temperatur yang tinggi / cenderung lembab
  • Musim (terutama pada saat musim panas)
  • Tinggal di daerah tropis dan subtropis
  • Kulit berminyak
  • Hiperhidrosis
  • Penggunaan glukokortikoid
  • Imunodefisiensi
  • Faktor herediter
  • Pada anak ; pengolesan minyak pada kulit, misalnya cocoa butter

Patogenesis

Oleh karena pengaruh dari adanya faktor predisposisi maka Malassezia furfur akan berubah dari bentuk blastopore menjadi miselial. Organisme tersebut memiliki enzim yang menyebabkan oksidasi dari asam lemak pada permukaan lemak kulit, membentuk asam dikarboksilat yang merupakan inhibitor tirosinase pada melanosit – melanosit epidermal, menyebabkan terjadinya hipomelanosit.

Pitiriasis Vesikolor

Gejala Kulit
  • Biasanya asimtomatik dan hanya terdapat gatal ringan terutama saat berkeringat.
  • Pseudoakromia akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksin jamur sering dikeluhkan.
  • Terdapat dua bentuk lesi, yaitu bentuk folikuler yang berbentuk bulat – bulat kecil di sekitar folikel rambut dan bentuk makula yang mempunyai ukuran yang lebih besar dengan batas tegas.
Kriteria Diagnosis
  1. Lesi kulit berupa makula sampai dengan patch hipo / hiperpigmentasi, berbatas tegas, berbentuk bulat / oval, ukuran bervariasi dengan skuama halus di bagian tengahnya.
  2. Skuama halus lebih terlihat terutama saat lesi digaruk (finger nail sign +)
  3. Predileksi pada daerah berlemak (wajah, leher, dada, punggung, ekstremitas atas, paha).
  4. Pada pemeriksaan dengan KOH-Parker ditemukan hifa dan spora dengan bentukan seperti spaghetti meatballs.

Pemeriksaan

Anamnesis Terdapat bercak putih atau coklat, yang gatal ringan terutama saat berkeringat, berkembang lambat mulai dari bentuk titik-titik kemudian melebar dan dapat bergabung membentuk bercak yang lebih besar.
Lesi Kulit Makula sampai dengan patch hipo / hiperpigmentasi, berbentuk bulat / oval dengan skuama halus di bagian tengahnya.
Penunjang
  1. Lampu Wood : fluoresensi kuning keemasan.
  2. Mikroskopis (KOH-Parker) : gambaran hifa dan spora seperti spaghetti meatballs (sediaan diambil dari kerokan skuama dengan menggunakan skalpel atau dari skuama yang dilekatkan dengan isolasi).
DDx Dermatitis seboroik, Pitiriasis alba, Pitiriasis rosea, Vitiligo, Lepra.

Manajemen

Umum Hindari faktor predisposisi
Pilihan Agen Topikal
  • Selenium Sulfida (2.5%) lotion atau shampoo : dioleskan pada lesi setiap hari 10 – 15 menit sebelum mandi selama 1 minggu.
  • Shampoo ketokonazol : cara pakai sama dengan selenium sulfide.
  • Krim azol (ketokonazol, mikonazol, klotrimazol) : dioleskan 2 kali sehari selama 2 minggu.
  • Terbinafine 1 % solusio : dioleskan 2 kali sehari selama 1 minggu.
Pilihan Agen Sistemik
  • Tablet ketokonazol 1 x 200 mg sehari selama 10 hari
  • Tablet itrakonazol 2×100 mg sehari selama 10 hari
Nb. Dalam memilih jenis obat jangan lupa perhatikan efek samping dan interaksi obat, ketokonazol memiliki interaksi dengan beberapa obat sehingga menaikkan level obat tersebut dalam darah, sebaiknya tidak digunakan pada penderita hipertensi.

Edukasi

Edukasi
  • Hindari faktor predisposisi :
    • Jaga kebersihan diri
    • Hindari kelembaban pada kuit
    • Gunakan pakaian yang berbahan katun dan menyerap keringat
  • Sisa lesi :
    • Walaupun jamur sudah tidak ditemukan namun lesi hipo / hiperpigmentasi bisa tetap ada di kulit sampai beberapa minggu atau bulan, untuk mengembalikan warna ke kulit semula pasien dapat disarankan untuk berjemur.
  • Edukasi terkait penggunaan obat

Contoh : menggunakan ketokonazol sistemik

    • Ketokonazol diminum setelah makan
    • Sesudah minum ketokonazol lakukan sedikit aktivitas fisik agar berkeringat, dengan tujuan ketokonazol akan terekskresi lewat kulit sehingga obat sampai ke kulit lebih cepat
    • Walaupun sudah tidak gatal tetap teruskan minum obat sampai dengan 2 minggu (karena ketokonazol bersifat fungistatik dan tidak membunuh jamur, maka jamur hanya ditahan agar tidak berkembang sedangkan untuk membuangnya tetap mengikuti waktu pergantian stratum korneum epidermis ; rata-rata 14 hari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s