Islam

Siraman

Bismillahirrohmaanirrahiim..

Beberapa hari yang lalu di tengah – tengah percakapan antara gw dan nyokap gw mengenai perkembangan rencana pernikahan adik gw, dia bilang begini, “kalo mama sih ga mau pake acara siraman.. dan mama udah bilang ke keluarga janu supaya kalo janu mau ada siraman gapapa janu buat sendiri.. tapi dina ga buat siraman.. dan alhamdulillah keluarga janu ternyata tipenya sama-sama ga buat siraman”. Simply like that.

Only by that, I started to questioning my self : “Why?. Bukannya kalo siraman itu masalah adat ya?. Aku tau sih itu dulu ga ada dalam ajaran islam, tapi kan bukannya islam juga mengajarkan untuk menjaga adat ya?, kalo misalnya cuma ngerjain itu dengan tujuan menjaga adat bukannya gapapa ya?”. Didn’t want to have a stupid discussion without knowing the real base, akhirnya gw cari dulu, kira – kira kenapa ya alasan mama bilang begitu.. dan dengan optimisme bahwa sebenernya it doesn’t matter to do siraman ritual, kalo ternyata nanti ketemu argumentasi yang mendukung pikiran gw, niatnya, gw bakal mempertanyakannya sama mama. He he he (rasanya seperti orang paling pinter sedunia gitu).

siraman

Jadilah gw mulai buka – buka internet. Tentang pernikahan adat jawa. Kenapa ada acara ini itu, termasuk siraman. Apa sih esensinya? Kenapa nenek moyang kita dulu berbuat begitu. Dan ini yang gw temukan :

Biasanya siraman dimaksudkan sebagai ruwatan bagi mempelai. Ruwatan adalah upacra tolak bala, tradisi yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Hal itu dilakukan dengan harapan agar pengantin dapat mengarungi kehidupan rumah tangganya dengan selamat dan jauh dari malapetaka. Keyakinan ini memang sudah mengakar dalam keyakinan banyak orang Jawa, meskipun telah mengaku beragama Islam.

Dalam prosesi siraman ini terkadang ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi kedua pengantin, seperti harus dengan tujuh macam bunga, atau airnya diambil dari tujuh sumur dan lain lainnya. Hal hal seperti ini sangat berbahaya bagi keutuhan akidah seorang Muslim, bahkan bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan syirik bila sampai diyakini ruwatan tersebut memberikan manfaat dan madharat. Misalnya dengan menyatakan,”Awas bila tidak menjalani prosesi ruwatan tersebut pasti sial atau tidak selamat rumah tangganya.”

Meyakini ruwatan seperti ini dapat menolak bala dan ke-mudharatan yang Allah timpakan, atau mendatangkan bala dan ke-mudharatan bila tidak dilaksanakan, merupakan perbuatan yang merusak akidah tauhid seseorang.

Perkara ini tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para tabi’in serta ulama – ulama Islam terdahulu. Sepengetahuan kami, ini hanya ada di Indonesia saja atau negara – negara yang masih mempertahankan tradisi dan ajaran paganisme.

Demikian juga amalan ini termasuk ke dalam sabda Rasulullah SAW, “ Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintah kami maka tertolak.” ( Riwayat Muslim ).

Sedangkan tujuan acara tersebut sudah jelas untuk mencari barakah ( ngalap berkah ) dan menolak bencana yang belum terjadi ( tolak bala ), padahal dilarang meminta perlindungan kecuali hanya kepada Allah, dengan cara sesuai syariat islam.

Sumber : http://wwwcallmejoe.blogspot.com/2011/05/siraman-sebelum-menikah_26.html

Jadi ternyata asal muasalnya siraman itu begitu toh.. untuk nolak bala. Dan alasan ini sebenernya udah cukup untuk gw buat ga melakukan siraman kalo nanti gw kawin. Karena bener-bener ga masuk akal. Mana ada bala ditolak pake siraman air?. Kata siapa kalo ga pake ritual itu bisa ga selamat rumah tangganya?. Dulu nabi Muhammad SAW ga pake siraman toh rumah tangganya sama khadijah baik-baik aja..

  ˜

Cuma karena masih penasaran, akhirnya gw masih kekeuh mau cari info lagi. Kalo misalnya kita ngelakuin ini bukan karena ingin nolak bala, tapi cuma untuk melestarikan adat nenek moyang gimana?. Dan sekarang ini paas bgt gw menemukan tafsir Surat Al-Baqarah ayat 171 yang mulia dari Al-Qur’an, yang bunyinya begini :

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاء وَنِدَاء صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang – orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.

Yang kalo ditafsirkan per katanya :

1) Ini pasti bukan kebetulan. Bahwa setelah Allah berbicara tentang banyaknya manusia yang cintanya kepada dunia sama bahkan melebihi cintanya kepada Allah, tentang hubungan teleologis antara yang mengikuti dan yang diikuti, tentang pemimpin atau imam yang mengantarkan pengikutnya ke gerbang Neraka, tentang para penikmat rezki yang haram dari transaksi dukung-mendukung pemimpin atau imam, tentang orang-orang yang pilihan-pilihan hidupnya bukan bertumpu pada rasionalitas tapi semata pada warisan para pendahulunya ; tiba-tiba Allah membuat perumpamaan seputar gembala dan hewan gembalaannya. Perumpamaan ini benar-benar terasa pas mewakili semua pembahasan itu (dari ayat 165-170). Dari sisi hirarki, gembala memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada hewan gembalaannya. Jaraknya seperti bumi dan langit. Gembala memiliki pengetahuan yang sempurna seputar sifat dan prilaku hewan – hewan gembalaannya. Sementara hewan – hewan tidak memiliki pengetahuan bahkan terhadap dirinya sekalipun. Hewan – hewan itu mendengarkan setiap seruan dan panggilan gembalanya, semata sebagai naluri hewaniahnya, tetapi sama sekali tidak bisa memaknai kata demi kata yang membentuk seruan dan panggilan tersebut. Itu sebabnya seruan dan panggilan hanya efektif bilamana dikombinasi dengan pecutan. “Katakanlah (hai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu, dan tiadalah (mungkin) orang-orang yang tuli mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan’.” (21:45)

2) Orang-orang yang menentang atau mengabaikan kebenaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul bagaikan hewan gembalaan yang mendengar seruan dan panggilan tetapi tidak bisa memaknainya sehingga seruan-seruan dan panggilan-panggilan itu tidak pernah menyeruak masuk ke dalam kesadaran mereka : كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاء وَنِدَاء (kamatsalilladzĭ yan’iqu bimā lā yasma’u illa du’ā-a wa nidā-aseperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja). Kesadaran mereka tak pernah tersentuh oleh دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-aseruan dan panggilan) itu. Mereka tidak percaya kalau seruan dan panggilan para nabi dan rasul pada dasarnya adalah seruan dan panggilan dari langit. “Dan apakah kalian (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kalian peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dengan harapan kalian bertakwa dan mendapat rahmat?” (7:63). Sikap apriori inilah yang menyumbat kesadaran mereka. Jiwa mereka hanya digerakkan untuk menyadari sesuatu yang kasat mata dan dangkal. Mereka lebih memilih para Khalifah Duniawi untuk mereka ikuti – karena juga menjanjikan kesenangan-kesenangan duniawi – ketimbang Khalifah Ilahi yang hanya menjanjikan hal-hal yang abstrak dan “nanti”. Mereka menyangka, atau paling tidak mengopinikan melalui ‘lembaga-lembaga’ buatan mereka bahwa, para Khalifah Duniawi itu sebagai pemimpin-pemimpin yang juga mendapat petunjuk. “Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang – orang yang lemah kepada pembesar – pembesar yang sombong : ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali – kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (14:21).

3) Perhatikan kata-kata ini: صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ [shummun bukmun ‘umyun, (mereka itu) tuli, bisu dan buta]. Kata – kata ini mengingatkan kita pada ayat 18 (dari Surat al-Baqarah ini). Untuk memahami secara mendalam kata – kata ini, terutama kaitannya dengan ayat-ayat yang serupa, silahkan baca kembali ayat (18) tersebut, terutama pada poin 3. Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa ayat 18 merupakan rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang karakter dan perilaku orang-orang munafik. Kalau kita gunakan ayat 18 tersebut untuk memaknai frase الَّذِينَ كَفَرُواْ (alladzĭna kafarŭ, orang-orang kafir) yang tertera di awal ayat 171 ini, maka orang kafir yang dimaksud sangat mungkin ialah : orang yang mengaku Muslim tetapi jiwanya sesungguhnya ingkar kepada seruan dan panggilan para nabi dan rasul, tetapi karena hendak merebut posisi kepemimpinan yang diduduki para nabi dan rasul tersebut maka mereka menggunakan kostum “iman”. Baik mereka melakukannya sendiri (sesama mereka) ataupun dengan membangun konspirasi dengan orang-orang kafir tulen di luar sana. Tanpa menengok ke ayat 18, maka orang kafir yang dimaksud tentu termasuk orang kafir tulen, orang yang lahir batin menolak seruan dan panggilan para nabi dan rasul. “Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?” (11:24).

4) Allah kemudian menyebut “(mereka yang) tuli, bisu dan buta” itu sebagai: لاَ يَعْقِلُون [lā ya’qilŭn,(orang yang) tidak menggunakan aqal(nya)], sehingga tidak mampu memaknai دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-aseruan dan panggilan) para nabi dan rasul. Apabila akal tidak difungsikan maka pengetahuan yang diterima hanya berhenti pada tangkapan panca indera, pengetahuan empirik, pengetahuan yang kasat mata dan cetek. Di titik inilah ‘jualan’ para Khalifah Ilahi menemui wilayah marketing-nya yang amat luas, karena pada umumnya manusia paling gampang menerima sesuatu yang kasat mata dan cetek. Mereka menganggap bahwa yang disebut “bukti” (evidence) itu ialah sesuatu yang kasat mata. Kebanyakan manusia gagal melihat bahwa justru temuan akal itulah “bukti” (evidence) yang tak terbantahkan. Mereka tidak faham bahwa yang cetek dan kasat mata juga hanya mendatangkan manfaat yang cetek dan sesaat. Manfaatnya tidak mampu menembus relung-relung jiwa yang paling dalam dan tak kuasa melampaui batas-batas ruang dan waktu. Padahal دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-aseruan dan panggilan) para nabi dan rasul merupakan konsumsi jiwa yang paling dalam dan berjangkauan jauh ke depan, melampaui kehidupan dunia ini. Kesimpulannya, akal hanya bekerja apabila orang tersebut mau mendengar masukan dari mana saja dan dari siapa saja (tidak tuli), mau bertanya, meminta informasi tambahan ataupun klarifikasi (tidak bisu), dan mau melihat, memperhatikan, memandang jauh ke depan (tidak buta). Tanpa itu, akal akan ‘menganggur’. Inilah yang terjadi pada mereka yang menyerahkan nasibnya kepada para pendahulunya (seperti telah diuraikan di ayat 170). “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak menggunakan akal. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (49:4-5)

Sumber : http://www.tafsir-albarru.com/id/al-baqarah/255-al-baqarah-ayat-171.html

Whoaa.. baca tafsir di atas serem banget. Haha. Sumpah gw takut. Karena mengikuti ajaran nenek moyang untuk ngadain acara siraman yang ga berdasar dari ajaran islam itu ya analoginya bisa hampir sama lah kaya jadi hewan gembalaan. Ngikutin aja apa ajaran nenek moyang tanpa merhatiin apa yang diseru sama Rasulullah SAW. Serem sumpah.. Cuma dengan belajar tafsir satu ayat ini, alhamdulillah gw jadi semakin kagum sama Al-Qur’an.. emang jawabannya untuk mengatasi masalah itu ga lekang oleh jaman. Mau dipake jaman kapan aja, untuk masalah apa aja, udah jelas tuntunannya.. Alhamdulillah banget, karena gw dilahirkan sebagai seorang muslim🙂 jadi gw punya Al-Qur’an. Dan lebih lanjutnya lagi, gw juga nemuin ayat lain dalam Al-Qur’an, Surat Al-Luqman ayat 21 yang berbunyi begini :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

Sumber : http://altafsir.com/ViewTranslations.asp?Display=yes&SoraNo=31&Ayah=0&Language=13&LanguageID=2&TranslationBook=

Tambah serem deh setelah baca itu. Waktu orang – orang yang disuruh mengikuti yang diturunkan oleh Allah SWT malah milih ngikutin apa yang dikerjain sama bapak – bapaknya dahulu. Sedih.

˜

Cuma ya, kan berbakti sama orang tua kan masuk ke dalam 3 hal yang disukai oleh Allah SWT.. gw sih beruntung nyokap gw ga mau ngerjain yang beginian.. nah kalo misalnya masih ada orang tua yang ingin anaknya melakukan ritual siraman gimana ya?. Kalo misalnya ga nurut bukannya durhaka?. Untuk hal ini, tentunya gw cari lagi dasar yang lain.. dan alhamdulillah ketemu begini :

Nabi anggap durhaka kepada dua orang tua itu sebagai dosa besar, sesudah syirik. Begitulah sebagaimana ungkapan Al-Quran. Oleh karena itu dalam hadisnya, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

“Maukah kamu saya terangkan sebesar besar dosa besar –tiga kali. Mereka menjawab: Mau, ya Rasulullah! Maka bersabdalah Nabi, yaitu : menyekutukan Allah, durhaka kepada dua orang tua –waktu itu dia berdiri sambil bersandar, kemudian duduk, dan berkata: Ingatlah! Omongan dusta dan saksi dusta.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Ada tiga orang yang tidak akan masuk sorga: 1) orang yang durhaka kepada dua orang tua; 2) laki-laki yang tidak ada perasaan cemburu terhadap keluarganya; 3) perempuan yang menyerupai laki-laki.” (Riwayat Nasa’i, Bazzar dan Hakim)

“Semua dosa akan ditangguhkan Allah sampai nanti hari kiamat apa saja yang Dia kehendaki, kecuali durhaka kepada dua orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya (di dunia) sebelum meninggal.” (Riwayat Hakim dan ia sahkan sanadnya)

Namun biarpun begitu, untuk hal – hal dimana orang tua mengajak pada hal yang dilarang islam Allah SWT telah berfirman sebagai berikut :

“Hendaklah kamu bersyukur kepadaku dan kepada dua orang tuamu ; kepadakulah tempat kembali. Dan jika mereka itu bersungguh-sungguh mempengaruhimu supaya kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turut mereka itu, tetapi berkawanlah dengan mereka di dunia ini dengan cara yang baik ; dan ikutilah jalan orang yang taubat kepadaku ; kemudian kepadakulah tempat kembalimu, maka akan kujelaskan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 14-15)

Setiap muslim diperintah dalam kedua ayat ini agar tidak mau menuruti kedua orang tua terhadap apa yang mereka usahakan dan mereka perintahkannya –dalam hal kedurhakaan– sebab sedikitpun kita tidak boleh menurut manusia dalam hal durhaka kepada Allah (laa tha’ata limakhluqin fima’shiyatil khaliq). Adakah maksiat yang lebih besar selain syirik? Namun si anak tetap diperintah supaya bergaul dengan orang tuanya itu dengan sebaik-baiknya, dengan syarat tidak akan mempengaruhi kejernihan imannya. Bahkan si anak dianjurkan supaya mengikuti orang-orang mu’min yang baik-baik yang mau taubat kepada Allah.

Sumber : http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/3039.html

Dari penjelasan di atas jelas deh, kalo misalnya berbakti pada orang tua itu memang yang utama, setelah berbakti sama Allah SWT. Tapi kalo misalnya orang tua kita yang juga manusia (bisa salah dan khilaf) memilih atau mengajak kita untuk melakukan hal yang bertentangan sama akidah kita diperintah untuk ga mengikuti. Tapi menurut gw tentunya dalam mengingatkan orang tua atau menolak suruhan orang tua yang mengarah kepada keburukan harus tetap dengan cara – cara yang baik juga, seperti yang diajarkan islam dalam sopan santun bicara sama orang tua.

͠˜

Nah terus gimana kalo misalnya kita udah setuju ga ada siraman, tapi calon suami kita dan keluarganya malah pengen ada siraman?. Untuk hal ini, gw setuju banget sama pendapat seorang sodara sesama muslim terhadap kejadian yang dialami sama temannya.. singkat ceritanya adalah seorang teman dari ukhti tersebut merasa tidak diperlukan acara siraman dalam pernikahannya, namun calon suaminya merasa perlu. Ini tulisannya tentang kisah tersebut yang ia muat dalam blognya :

Teman kita “Anti” beberapa minggu lagi akan melaksanakan pernikahan, dia sempat mengikuti “Bimbingan Jelang Nikah” di Daarut Tauhid Bandung, disana dia mendapatkan banyak sekali Ilmu sebagai persiapan untuk menikah.. Pada intinya bahwa kita Menikah itu untuk mendapatkan Ridho Allah Ta’ala bukan???.. agar pernikahannya kelak menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah, siapa sih yg gamau Keluarganya kelak SAMAWA??. Untuk menjadi SAMAWA hendaknya persiapan menjelang suatu pernikahan itu dimulai dari hal-hal yg Allah sukai dan menjauhi yg hal-hal Allah tidak sukai. Sampai Akhirnya si “Anti” berkeyakinan bahwa kelak jika dia menikah tidak akan ada ritual Siraman,untuk menghindari hal-hal yang belum jelas tersbut. Namun apa yang terjadi, “Anti” dan calon suaminya sempat berdebat soal ini.. dan “Anti” keukeuh kumekeuh gamau ada siraman setelah proses sungkeman kelak, namun calon suaminya sedikit memaksa dan berpendapat bahwa siraman itu hanya tradisi semata, soal keyakinan bahwa siraman itu ada “sesuatunya” ya tergantung dari kitanya..yang penting kita tidak mengganggap bahwa siraman itu bisa mengakibatkan/menjadikan kita bakalan begini ato begitu (timbal balik), alasan kedua karena tradisi siraman itu sudah termasuk ke dalam Paket Wedding Organizer, dan katanya sayang kalau tidak dipakai, mubazir..semntara untuk mengadakan tradisi siraman aja terhitung Rp.xxxxxx, cukup besar dengan peralatan2 yang ada. jadi kalau tidak digunakan ya tidak mendapatkan momentnya juga.

Perdebatan memang kadang harus kita hindari, karena syetan akan terus membisikkan pada jiwa seseorang untuk selalu menganggap dirinya paling benar, apabila tidak ditunjang dengan ilmu Agama, sampai akhirnya “Anti” menghubungi ustad kenalannya yang kebetulan sebagai panitia di acara “Bimbingan Jelang Nikah tersebut” bahwa saat ini dirinya bingung dan sedang berdebat dengan calon suaminya mengenai langkah mana yang harus diambilnya, saat itu juga “Anti” menerima sms dari Ustad trsebut dan isinya “Padahal ngalah saja salah seorang..baru juga mau menikah sudah begitu..” untuk kesekian kalinya “Anti” menanyakan kembali apakah dirinya harus mengalah dan mengikuti keinginan calon suami, jawaban dari ustad pun terjawab “iya..mengalah saja..”. Hati “Anti” campur aduk antara sedih..karena janji nya pada Allah bahwa dia tidak akan melaksanakan ritual siraman itu akhirnya tidak ditepati juga, pikirnya.. untuk menghindar perdebatan dengan calon suaminya, toh Allah lebih tau isi hati nya.

Belum cukup dan tidak merasa puas “Anti” bertanya mengenai soal Siraman pada temannya yang kebetulan sebagai Operator Percikan Iman dan jawaban apa yang didapatnya membuatnya sedih.. pendapat orang tersebut yakni “ya betul harus ngalah,..tapi kalo ngalah nanti akan muncul “permintaan” ngalah selanjutnya? yang aku sayangkan adalah sang co, kalo memang itu keinginan keluarga.. mustinya ia yg paling depan membela dirimu..” 

Sumber : http://wwwcallmejoe.blogspot.com/2011/05/siraman-sebelum-menikah_26.html

Hmm.. jadi sebenernya memang kalo dalam pernikahan itu harus saling mengalah, supaya menghindari perdebatan. Karena perdebatan itu kan bisikannya syetan. Tapi menurut gw kalau untuk urusan akidah sekali lagi, jangan sampe ada tawar menawar. Bilal aja dulu ga mengalah untuk urusan akidah walaupun dia jadi terlibat perdebatan, disiksa dan ditindih batu.. Bilal tetep mengucapkan Laa illa ha illallah. Setuju banget sama jawaban dari operator percikan iman dalam cerita di atas. Seharusnya calon suami kita, yang notabene pemimpin kita di masa depan membuktikan kalo dia bisa maju jadi pemimpin kita, yang mengarahkan kita ke arah yang benar dan ngebela kita. Bukan malah akhirnya memaksa kita melakukan hal yang seharusnya dihindari dalam rangka menjaga akidah. Sedih banget baca cerita di atas.

͠˜

Dan setelah semua informasi dan penjelasan yang gw temuin itu, entah kenapa gw masih aja bertanya lagi ke diri gw sendiri : “eh tapi kalo misalnya tetep siraman tapi tanpa mempercayai kalo ritual ini berkaitan ke keselamatan rumah tangga boleh ga ya?, kan kalo kaya gitu berarti ga syirik kan? Syirik itu kan tentang percaya atau engga, semua kan tergantung niat”. Akhirnya gw cari – cari lagi dasarnya. Dan ini yang gw temukan :

Setiap upacara pernikahan memiliki tradisi. Upacara pernikahan adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan. Pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang, sehingga perlu ada upacaranya. Tidak terkecuali upacara pernikahan adat jawa. Dalam pernikahan adat jawa terdapat prosesi siraman. Dalam prosesi siraman adat jawa, juga ada doa yang harus disebutkan yang berbunyi seperti ini :

”Niat ingsun ora mecah kendhi, nanging mecah pamore anakku”.

Artinya : niat saya (orang tua pengantin) bukan memecah kendhi tetapi memecah pamornya anak saya.

Selanjutnya dilanjutkan dengan doa : Saya berniat memandikan pengantin bertumpahan batu gilang menggunakan gayung pulung sari. Supaya memiliki cahaya, cahaya Sang Sabawaya. Cahaya bersinar bagaikan Sang Rembulan, Simbar Jaya di dada Sang pengantin. Turunnya para bidadari sekethi kurang satu, bagaikan Dewi Supraba. Disiram tanggal satu nampak seperti tanggal sepuluh, dan bila disiram tanggal sepuluh seperti bulan purnama tanggal lima belas.

Sumber : Sutrisno Sastro Utomo, Upacara Daur Hidup Adat Jawa, (IKAPI: EFFHAR, 2002)

Wah dengan baca ini aja akhirnya gw udah ngerti. Walaupun tanpa niat syirik pada mulanya, cuma dengan melakukan prosesinya sendiri, kita tanpa sadar akan berniat kalo melakukan prosesi ini untuk memecah pamor anak. Ditambah lagi dengan memanjatkan doa – doa aneh dengan nama dewa – dewi seperti diatas.. ya kita mau ga mau saat melakukan prosesi ini udah melakukan hal – hal yang menjurus kepada kesyirikan. Sedih banget bacanya. Sedih karena banyak sodara – sodara sesama muslim gw yang masih banyak melakukan ini😦. Semoga Allah SWT yang memberi petunjuk kepada mereka, amin.

˜

Udahlah, akhirnya gw ngerti kenapa nyokap gw ga mau ngelakuin acara siraman. Bukan berarti dia ga menghargai adat. Cuma kalo emang adatnya bertentangan sama ajaran islam, dimana ajaran islam seharusnya selalu jadi pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim, ya untuk apa dikerjain. Karena mau kaya apa juga, setinggi – tingginya adat, masih kalah sama hukum Allah SWT. Sepenting – pentingnya melestarikan budaya masih kalah penting dari melestarikan agama islam. Sebaik – baiknya menghargai adat istiadat, masih lebih baik menghargai agamanya sendiri.

Dan pilihan nyokap gw untuk ga memaksakan kepercayaannya ke keluarga calon suami adik gw dengan membebaskan mereka milih mau pake acara siraman atau engga, menurut gw adalah salah satu charm nyokap gw. Di satu sisi dia menghindari perdebatan, di satu sisi lagi dia tetep menjalankan prinsipnya. Karena seperti kata Surat Yunus ayat 41 :

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah : “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Tapi alhamdulillah sepertinya both keluarga gw dan keluarga calon suami adek gw sama – sama sepikiran untuk ga buat siraman. Dan gw akhiri pencarian gw ini dengan alhamdulillah. Karena Allah SWT mengajarkan islam ke gw, dengan cara yang sangat menarik seperti ini.. dari pernyataan simpel yang diucapkan sama ibu gw yang baik hati🙂. Alhamdulillah..

4 thoughts on “Siraman

  1. terima kasih mbak infonya..saya jadi makin kuat dengan keinginan saya untuk tidak melakukan adat itu..tapi masih harus mencari cara untuk menjelaskan dan menegokan dengan keluarga calon istri saya..doakan saya berhasil ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s